Wawasan · Sejarah & Budaya

Menyusuri Jejak Sejarah di Balik Gedung Tua Sukabumi

Ketika warisan kolonial bertransformasi jadi ruang pameran dan kafe, cerita panjang tentang Setukpa, Polwan pertama, hingga jejak Kerajaan Pajajaran ikut terungkap.

Kota Sukabumi  •  Festival Soekaboemi Tempo Doeloe 2026  •  Liputan & Wawancara Lapangan

Gerbang Festival Soekaboemi Tempo Doeloe 2026

Gerbang utama Festival Soekaboemi Tempo Doeloe 2026, menyambut pengunjung yang datang menyusuri deretan tenda pameran dan bangunan bersejarah. — Dokumentasi pribadi

D
i sela riuh Festival Soekaboemi Tempo Doeloe (STD) 2026 akhir pekan lalu, sebuah bangunan tua peninggalan zaman Belanda di Kota Sukabumi menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi. Bangunan ini kini berfungsi sebagai tempat pameran sejarah sekaligus kafe, menghadirkan perpaduan antara nostalgia masa lalu dan gaya hidup masa kini.

Menurut penuturan salah satu petugas yang berjaga di lokasi, gedung tersebut awalnya digunakan sebagai tempat makan sekaligus area kerja para pekerja pada era kolonial Belanda. Fungsinya kemudian berganti seiring pergantian zaman: bangunan ini pernah menjadi bagian dari kegiatan Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa)—yang hingga kini masih lebih akrab disebut masyarakat dengan nama lamanya, Secapa—dan difungsikan sebagai asrama siswa laki-laki, bahkan pernah menjadi tempat tinggal bagi angkatan pertama Polisi Wanita (Polwan) yang saat itu berjumlah tujuh orang.

Setelah asrama dipindahkan ke gedung baru, bangunan ini sempat kosong dalam waktu cukup lama. Barulah sekitar empat tahun lalu—sempat tertunda dua tahun akibat pandemi Covid-19—pihak Setukpa memberi izin agar gedung ini dialihfungsikan menjadi ruang pameran sejarah sekaligus kafe, sebagai upaya menghidupkan kembali nilai historis yang melekat pada bangunan tersebut.

Arsitektur yang Menyimpan Cerita

Secara arsitektur, bangunan ini memiliki ciri khas peninggalan kolonial: bentuknya memanjang, dilengkapi tangga di bagian depan, serta halaman yang luas. Sekilas, bentuk bangunan ini mengingatkan pada rumah pengasingan Soekarno di Bengkulu—detail kecil yang menambah daya tarik historis bagi siapa pun yang berkunjung ke sana.

Jam Buka
09.00 – 16.00
Hari Operasional
Setiap Hari
Fungsi Sekarang
Museum & Kafe

Museum ini buka setiap hari, termasuk akhir pekan, mulai pukul 09.00 hingga 16.00, dan bisa diperpanjang hingga pukul 17.00 apabila masih ada pengunjung yang datang. Petugas menjaga secara bergantian untuk memastikan operasional berjalan lancar setiap harinya.

Cerita Mistis dan Jejak Kerajaan Pajajaran

Di balik fungsi barunya sebagai ruang pameran, bangunan ini juga menyimpan cerita-cerita lokal yang turut memperkaya nilai historisnya. Menurut cerita yang beredar di kalangan petugas, pada masa awal gedung ini kosong, suasana di sekitarnya sempat terasa agak mistis. Salah satu kisah yang beredar adalah penemuan sebilah keris di dekat sumur tua di area tersebut, setelah seseorang mengaku mendapat petunjuk lewat mimpi.

“Wilayah Sukabumi secara historis disebut memiliki keterkaitan dengan jalur perjalanan pada masa Kerajaan Prabu Siliwangi—benang merah yang menghubungkan bangunan kolonial ini dengan lapisan sejarah yang jauh lebih tua.”

Sukabumi rupanya tidak hanya memiliki satu museum. Petugas turut memperkenalkan keberadaan Museum Tionghoa yang berlokasi di kawasan pertokoan bawah Pasar Sukabumi, dekat kelenteng setempat. Museum empat lantai ini menyimpan sejarah perjalanan masyarakat Tionghoa di Sukabumi, galeri lukisan karya pelukis lokal, hingga arsip-arsip yang terdokumentasi dengan cukup baik.

Ketika Sejarah Bertemu Kebutuhan Digitalisasi

Cerita panjang di balik satu bangunan tua ini menunjukkan betapa kayanya lapisan sejarah yang dimiliki Kota Sukabumi—namun sebagian besar informasinya masih tersimpan dalam bentuk tutur lisan dari petugas ke petugas, generasi ke generasi. Risikonya, detail-detail berharga seperti ini bisa saja hilang seiring waktu apabila tidak segera didokumentasikan secara sistematis.

Di sinilah momentum digitalisasi menjadi relevan, bukan hanya bagi pelaku UMKM, tetapi juga bagi pengelola situs budaya dan sejarah. Salah satu gagasan yang bisa dipertimbangkan adalah menghadirkan chatbot berbasis AI khusus seputar sejarah Kota Sukabumi—semacam “teman virtual” yang bisa menjawab pertanyaan pengunjung soal asal-usul bangunan, kisah di baliknya, hingga informasi praktis seperti jam operasional museum, kapan saja dan di mana saja, tanpa harus menunggu petugas yang sedang bertugas.

Konsep semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Teknologi chatbot berbasis AI dengan pendekatan serupa sudah mulai diterapkan di berbagai sektor untuk menjawab kebutuhan informasi secara cepat dan konsisten.

Ingin tahu bagaimana chatbot AI serupa bisa dibangun untuk kebutuhan spesifik—mulai dari sejarah, layanan publik, hingga bisnis?


Lihat Layanan Chatbot Custom →


Ditulis berdasarkan liputan langsung dan wawancara dengan petugas museum di lokasi, Sabtu 4 Juli 2026, Festival Soekaboemi Tempo Doeloe 2026.

Masuk

Demi kenyamanan dan kelancaran akses ke seluruh layanan interaktif kami, sangat disarankan untuk mendaftar menggunakan akun Google.

Daftar

Demi kenyamanan dan kelancaran akses ke seluruh layanan interaktif kami, sangat disarankan untuk mendaftar menggunakan akun Google.

Setel Ulang Kata Sandi

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email, anda akan menerima tautan untuk membuat kata sandi baru melalui email.